Apa yang ada di pikiran anda ketika mendengar kata entok, mentok atau yang populer kita kenal dengan istilah Itik? Bisa jadi, banyak yang beranggapan bahwa entok identik dengan unggas yang jorok.
Tapi ketahuilah, meski terbilang unggas pemakan segala alias karnivora, namun entok bisa dibudidaya, dan dirawat sampai menjadi jawara.
Wiyono, salah satu peternak entok di Desa Mojoparon, Kecamatan Rembang, membuktikannya.
Sejak tahun 2021, ia yang awalnya membudidaya entok jenis konsumsi, berubah haluan menjadi peternak entok jumbo. Alasannya sangat menjanjikan, yakni ketika dilombakan dan menang, harga jual per paket entok, yakni 1 jantan dan 4 betina bisa menembus jutaan rupiah.
"Kemarin laku 3,5 juta satu paket. Kemudian dulu ada entok betina saya namanya Dewi Fortuna, menang 3 kali podium, dan saya budidayakan dulu kemudian saya jual laku jutaan rupiah," kata Wiyono di sela-sela kesibukannya, Minggu (19/4/2026).
Saat ini, Wiyono memiliki 8 ekor entok indukan, dengan rincian 1 jantan dan 7 betina.
"Ada tiga betina yang tengah mengerami telurnya, dan betina lainnya masih bertelur barusan," imbuhnya.
Lebih lanjut Wiyono menegaskan bahwa rata-rata, indukan tersebut sudah beberapa kali jadi juara kontes hingga level provinsi maupun nasional. Sehingga ketika bertelur atau sudah menetas, banyak yang menawar untuk membelinya.
"Ada yang beli telurnya, ada yang ketika sudah menetas umur seminggu dibeli, ya saya jual asal cocok harganya," tegasnya.
Hal yang sama juga dilakukan Ardiansyah, peternak entok dari Desa Sungiwetan, Kecamatan Pohjentrek.
Di kandang yang ia namakan "Nekad Farm", ada puluhan entok yang tengah dirawat, mulai dari minti alias anakan, remaja sampah entok indukan.
Meski masih muda, Ardi mengaku tertarik merawat entok lantaran selain mudah, entok tidak hanya bisa diikutkan kontes, tapi juga dijual dagingnya.
"Apalagi dagingnya sama kayak daging sapi, berserat dan empuk," terangnya.
Sekarang, usaha beternak entok yang dikembangkan Ardiansyah maupun peternak lainnya sudah memberikan keuntungan yang cukup banyak. Entok-entok mereka laku keras, bahkan terbeli sampai ke seluruh penjuru tanah air
"Kemarin di kisaran 5,8 juta untuk 2 ekor jantan. Pernah juga laku 2,5 juta untuk 2 betina saja," jelasnya.
Untuk menghasilkan entok jumbo maupun entok hias yang berkualitas, Ardi mengatakan bahwa ada tiga hal penting yang wajib diperhatikan, yakni kualitas pakan, kebersihan kandang dan vitamin untuk tumbuh kembang entok.
"Makannya sekali sehari, tidak banyak tapi kandungan proteinnya tinggi," ucapnya.
Dari sini, kita memahami betapa banyaknya potensi masyarakat yang ada di Kabupaten Pasuruan. Keberadaan mereka bukan hanya ada untuk menopang perekonomian keluarga, tapi mambawa nama daerah di kancah nusantara. Di daerahmu ada cerita apa? (emil)
Komentar