Pemerintah Kabupaten Pasuruan menggelar Apel Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2026, Kamis (22/10) pagi.
Apel tersebut dilaksanakan di Lapangan Universitas Nahdhodul Ulama Pasuruan dan dipimpin oleh Wakil Bupati Pasuruan, Shobih Asrori sebagai Pembina Apel. Sedangkan Pemimpin Apel dipercayakan kepada Menwa UNU Pasuruan, Muh. Ubaidillah. Selanjutnya Satkorcab Banser Kabupaten Pasuruan, Adi Laksono bertindak sebagai Perwira Apel.
Pembaca Teks Pembukaan UUD 1956 dipercayakan kepada Wahyu Akbar Rahmadani selaku PMII Komisariat UNU Pasuruan; Pembaca Teks Ikrar Santri oleh PAC GP Ansor Pohjentrek, Mochammad Miftachul Choir, Pembaca Resolusi Jihad oleh Nur Khotib, Anggota Dewan Pesantren Kabupaten Pasuruan, serta Pembaca Doa oleh KH. Ma'sum Hasyim.
Ditemui usai apel selesai digelar, Wabup Shobih mengingatkan kepada seluruh santri di Kabupaten Pasuruan agar tidak minder.
Menurutnya, santri sekarang harus percaya diri dan optimistis dalam menjalani roda kehidupan. Apalagi dengan adanya HSN dan Undang-Undang Pesantren, menjadikan keberadaan pesantren, santri, dan kiai kini sangat diperhitungkan.
"Selama berpuluh-puluh tahun, keberadaan pesantren maupun pendidikan di dalamnya tidak pernah dianggap ada. Padahal, kontribusi kalangan pesantren untuk kemerdekaan NKRI dan kemajuan bangsa ini sangatlah besar. Dengan UU Pesantren, keberadaan ponpes sekarang sangat diperhitungkan," katanya.
Gus Shobih - sapaan akrab Wakil Bupati Pasuruan ini menegaskan bahwa saat ini, pemerintah telah menyamakan pendidikan formal dengan pesantren. Maka dari itu, ia mengajak para santri untuk semakin percaya diri dan optimis dalam melaksanakan segala kegiatan, baik di dalam ponpes maupun saat terjun di masyarakat.
"Perjuangan tentunya tidak akan mudah tapi perlu adanya komitmen. Dan santri jangan minder, harus pede, optimistis karena minder adalah salah satu mental yang ketertinggalan. Lebih semangat lagi untuk menuntut ilmu di Pondok Pesantrennya masing-masing," harapnya.
Tak lupa, Gus Shobih mengajak seluruh santri untuk dapat menjadi pelopor kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, persatuan, penjaga kerukunan, penggerak kemandirian ekonomi, serta sahabat bagi lingkungan.
"Jadikan nilai-nilai agama sebagai sumber inspirasi untuk merawat bumi, menebarkan kedamaian, dan membangun kehidupan yang lebih baik. Jangan biarkan perbedaan memecah belah kita, karena Indonesia yang kuat hanya dapat dibangun melalui kebersamaan," tutupnya. (emil)
Komentar