Siapa
yang tidak kenal dengan Mangga Alpukat, julukan familiar Mangga Klonal 21? Buah
tropis bercitarasa super manis
segar dan juicy tersebut tidak hanya menjadi icon hortikultura
unggulan Kabupaten Pasuruan saja. Tetapi sekaligus sebagai buah tangan spesial
yang wajib dipesan para pecinta Mangga ketika musim panen raya tiba.
Memasuki
musim panen raya, buah hasil persilangan antara Mangga varietas Gadung dengan
Arumanis itu semakin banyak diminati masyarakat. Penggemarnya tidak hanya
berkisar di wilayah Pasuruan saja, melainkan juga dari luar kota saja. Tetapi
juga digemari masyarakat di luar pulau Jawa semisal Sumatra dan Kalimatan. Bahkan
sangat diminati pasar luar negeri. Sebut saja Kuwait, Malaysia, Australia dan
beberapa negara lainnya.
Seperti
yang terpantau di Kecamatan Rembang yang merupakan salah satu kawasan sentra
penghasil Mangga Alpukat. Sejak awal Oktober 2026 hingga saat ini, banyak pembeli
menyerbu langsung ke rumah para petani. Ada juga yang mendatangi lapak-lapak
Mangga di sepanjang jalan Desa Oro-oro Ombo dan sekitarnya.
Ladi
Khairullah, diantara petani Mangga asal Desa Oro-oro Ombo Wetan menceritakan,
setiap harinya ia mendapatkan banyak pesanan dari banyak pembeli. Tidak hanya
dari Pasuruan dan kota-kota lainnya saja. Melainkan juga pesanan dari luar Jawa
Timur. Praktis, ratusan pohon Mangga yang dibudidayakan di 6 lokasi yang
berbeda, hampir setiap hari dipanennya untuk memenuhi kebutuhan pesanan.
“Kebun
kami di 6 lokasi yang berbeda, masing-masing ada 200-an pohon. Ada yang di
Dusun Beran dan Dusun Watulunyu, Oro-oro Wetan Kecamatan Rembang dan di Desa
Wonokerto, Kecamatan Sukorejo. Kalau pas panen raya, kami bisa panen antara 50
kwintal sampai 1 ton. Tergantung lebat tidak buahnya.
Lantas
bagaimana dengan harga jualnya? Kualitas buah yang premium, Ladi mampu menjual
hasil panennya dengan harga bervariasi. Jika sebelum panen raya atau sekitar
bulan Agustus – September 2026, Mangga grade B dibandrol di harga Rp 40.000-Rp
50.000/kg. Sedangkan Mangga grade A di kisaran harga Rp 50.000-Rp 70.000/kg,
tergantung ukuran buah.
“Kalau
sekarang kan sudah panen raya, stok buah melimpah. Harga Mangga grade A, Rp
30.000. Yang Mangga grade B, Rp 15.000 per kilonya. Pembelinya, selain di area
Jatim, ada yang dari Jakarta, Bandung, Jogja, Solo, Tangerang, Kalimantan,”
ujarnya pada hari Senin (12/10/2026).
Sukacita
yang sama juga dirasakan oleh Sugiono, petani Mangga Alpukat yang tinggal di
Desa Wonokerto, Kecamatan Sukorejo. Sejak awal Oktober 2026 hingga saat ini, ia
banyak mendapatkan orderan Mangga hasil panennya. Dari 300-an pohon yang
ditanamnya di lahan seluas 2,5 hektar telah didistribusikan ke beberapa kota di
Jawa Timur dan hampir seluruh pulau Jawa. Berikut, dikirimkan ke alamat rumah
pembeli yang berdomisili di Sumatera dan pulau lainnya.
“Alhamdulillah
banyak juga konsumen yang langsung datang ke kebun untuk bisa merasakan sensasi
petik langsung. Mangga di Desa Wonokerto terkenal manis dan daging buah yang
lembut karena betul-betul dibudidayakan sesuai dengan SOP. Mulai dari
pemangkasan, pemupukan dan pasca panen,” terangnya bersemangat.
Diketahui,
di Kabupaten Pasuruan, lebih dari 4 ribu hektar luasan lahan perkebunan
tersebar di beberapa wilayah. Selain banyak dijumpai di Kecamatan Rembang,
Mangga Alpukat juga banyak dibudidayakan di Kecamatan Sukorejo. Berikut, di Kecamatan
Wonorejo, Kecamatan Nguling dan Kecamatan Grati.
Hingga
akhir tahun 2025, luas panen dari keseluruhan luas lahan perkebunan sebanyak
944.064 pohon. Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan luas panen tahun
2024 yakni 728.815 pohon. Diantara indikator keberhasilan budidaya tidak
terlepas dari unsur agro climate yakni tahan terhadap kekeringan serta
kondisi tanah yang sangat bagus. Di Rembang misalnya, tanah hitamnya memiliki
tingkat kelembabannya tidak tinggi yang sangat diperlukan untuk menghasilkan
buah kualitas terbaik.
Di
sisi lain, tingginya produktivitas berkat penerapan bermacam teknologi
pertanian. Seperti pembuahan komoditas mangga diluar musim dengan menggunakan paclobutrazol
dan pupuk organik. Berikut, pemangkasan bentuk dan produksi serta pengembangan
sentra kawasan perkebunan secara kontinyu dan berkelanjutan melalui bantuan
bibit yang memperoleh anggaran dari APBD Kabupaten Pasuruan. (Eka Maria)
Komentar