Logo Kabupaten Pasuruan
Pemerintah Kabupaten Pasuruan
Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Pasuruan Jalan Raya Raci Km. 9, Bangil, Pasuruan, 67153

Festival Jenang Suro. Cara Warga Desa Tutur Peringati Tahun Baru Islam

Gambar berita
08 Juli 2026 (15:15)
Budaya
629x Dilihat
0 Komentar
Emil Akbar

Sudah pernah dengar jenang suro? Ya, Bagi sebagian masyarakat muslim, jenang suro atau Bubur Suro bukan hanya sekedar sajian lezat, namun juga bagian dari tradisi menyambut Tahun Baru Islam

Seperti yang dilakukan masyarakat di Desa Tutur, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Pergantian kalender islam ini disambut dengan antusias oleh Pemerintah Desa Tutur dengan menggelar Festival Jenang Suro.

Festival tersebut digelar pada Minggu (5/7/2026) di Pendopo Kecamatan Tutur dan sepanjang jalan di sekitaran kantor kecamatan. 

Pantauan di lokasi, para ibu yang merupakan warga sekitar terlebih dulu memasak jenang suro secara gotong royong di Halaman Pendopo Kecamatan Tutur. Setelah selesai, jenang-jenang tersebut ditempatkan dalam wadah stereofom untuk kemudian dibagikan gratis kepada siapapun yang hadir.

Kepala Desa Tutur, Hermanto Susilo mengatakan festival jenang suro merupakan adat istiadat dan tradisi yang dilakukan masyarakat Desa Tutur setiap kali menyambut datangnya Tahun Baru Islam alias Muharam.

“Inilah Festival Jenang Suro yang secara turun-temurun telah lama menjadi bagian dari budaya yang tetap lestari hingga kini. Sudah bertahun-tahun kami laksanakan,” katanya.

Dalam festival ini, masyarakat juga menyaksikan pawai budaya yang semarak, hingga bazar UMKM lokal yang menampilkan beragam produk unggulan. Kata Hermanto, kegiatan seperti ini menandakan tradisi terus terjaga, budaya terus hidup, dan ekonomi lokal terus bergerak.

“Karena festival jenang suro ini bertujuan untuk mendoakan semua mahluk hidup yang ada di desa Tutur, agar mendapatkan keberkahan dari Allah SWT dan ke depan dapat terus gemah ripah loh jinawai,” imbuhnya.

Sementara itu, Camat Tutur, Hendi Candrawijaya berterima kasih kepada masyarakat Desa Tutur yang senantiasa menjaga adat istiadat dan budaya, salah satunya festival jenang suro.

Ia pun mengajak masyarakat untuk terus menjaganya agar tetap dilanjutkan oleh generasi mendatang.

“Mari terus lestarikan warisan budaya sebagai identitas dan kebanggaan untuk  memperkuat kebersamaan masyarakat sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi lokal kepada generasi muda,” ucapnya.

Hendi meyakini, melalui festival jenang suro, nilai gotong royong, persaudaraan, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur akan terus terjaga di tengah perkembangan zaman yang semakin canggih.

“Karena ini sebagai bentuk pelestarian budaya, maka saya ucapkan terima kasih kepada Pemdes Tutur khususnya dan masyarakat Kecamatan tutur pada umumnya agar tetap guyup rukun menjaga warisan budaya kuno, sehingga akan tetap lestari,” harapnya. (emil)

 


Ringkasan AI Beta

Ringkasan AI adalah alat untuk mempermudah Anda membaca berita dalam bentuk poin-poin penting. Ringkasan ini dibuat oleh kecerdasan buatan (AI), dan kami tidak menjamin keakuratan sepenuhnya.
Silakan klik tombol di bawah ini untuk menghasilkan ringkasan berita oleh AI.

Komentar


Tinggalkan Komentar:

Captcha

Berita Lainnya

Article Image
Petakan Kebutuhan Industri dengan Skill Pencaker, Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Pasuruan Gelar Training Needs Analysis

Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Pasuruan menggelar Training Needs Analysis (TNA)...

Article Image
Khidmat pada Ulama dan Santri. Pemkab Pasuruan dan PCNU Gelar Medical Check Up Gratis

Sejumlah kiyai hingga para santri di Kabupaten Pasuruan mengikuti Medical Check...

Article Image
Pimpin Apel Santri Nasional 2026, Gus Shobih: Santri Jangan Ada Rasa Minder

Pemerintah Kabupaten Pasuruan menggelar Apel Hari Santri Nasional (HSN) tahun 20...

Article Image
Doa Kebangsaan 2 Tahun Prabowo-Gibran, Gus Shobih: Pembangunan Tak Cukup Kerja Keras Fisik, Tapi Butuh Ketersambungan Batin

Dalam gelaran Doa Kebangsaan memperingati 2 tahun kepemimpinan Presiden H. Prabo...