Di tengah gempuran sepatu impor dan pabrikan, pabrik rumahan milik Riwayat, warga Dusun Karangsono, Desa Karangsono, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan justru tetap bertahan sampai puluhan tahun.
Beragam jenis sepatu, mulai dari safety shoes sampai sporty shoes menjadi suguhan pemandangan saat memasuki rumah sekaligus pabrik sepatu warga RT 2 RW 5 ini, Selasa (13/1/2026) siang.
Pantauan di lokasi, sedari pagi, beberapa orang pekerja sudah mulai mengukur pola, memotong bahan kulit, melakukan pemasangan sol luar, hingga melakukan pengemasan. Lokasi nya berbeda-beda, ada yang di rumah dan ada yang ditempatkan dalam satu tempat yang tak jauh dari rumah Riwayat.
Menurut Riwayat, bisnis usaha sepatu kulit sudah digelutinya sejak tahun 1990. Tepatnya saat ia memutuskan resign alias berhenti bekerja pada salah satu pabrik sepatu di Surabaya.
"Dulu saya buruh pabrik sepatu di Surabaya. Pengen berhenti dan membuat sepatu sendiri di rumah," ungkapnya.
Niatnya menjadi pengrajin sepatu tak mulus begitu saja. Tak sedikit Riwayat berhadapan pada momen hampir menyerah saat tak ada yang memesan sepatu buatannya, terlebih ketika Indonesia dilanda Pandemi Covid-19.
Namun berbekal ketekunan dan kesabaran, ia tetap bersikukuh pada pendiriannya sebagai pengrajin sepatu kulit.
"Namanya juga usaha. Ada naik turunnya, tapi alhamdulillah semua bisa kami lewati," imbuhnya.
Kini, usahanya tak pernah sepi order. Dalam setahun, setidaknya ada tiga perusahaan yang telah bekerja sama dalam pembuatan safety shoes. Bahkan jumlahnya mencapai antara 2500-3000 pasang sepatu, dan harus selesai selama 6 bulan pengerjaan.
"Alhamdulillah satu pabrik ada yang pesan 800 pasang, 1000 atau 1500 pasang sepatu dan harus selesai dalam jangka waktu 6 bulan," ucapnya.
Dijelaskan Riwayat, sepatu-sepatu buatannya dibandrol mulai Rp 140 ribu sampai jutaan rupiah, tergantung dari jenis dan bahan yang dipakai untuk membuat sepatu yang berkualitas.
"Insya Allah sepatu saya ini kualitasnya sangat bagus. Silahkan datang ke sini untuk membuktikannya," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Karangsono, Muhammad Alim menegaskan bahwa Riwayat adalah satu dari beberapa warga yang tetap bertahan menjadi pengrajin sepatu.
Faktanya, sepertiga dari jumlah penduduk Desa Karangsono, dulunya berprofesi sebagai pengrajin sepatu. Namun seiiring berubahnya zaman, profesi ini tak lagi diminati.
"Kalau sekarang bisa dihitung, mungkin cuma ada di lima titik saja. Salah satunya di RT 2 RW 5 ini," terangnya. (emil)
Komentar