30Nov2018

Melihat Dari Dekat Kampung Pia Di Kecamatan Gempol. Sehari Produksi 1500 Kg, Layani Pengiriman Sampai Ibukota

Kecamatan Gempol selain padat akan sentralisasi industri, juga menyimpan segudang potensi, terutama geliat perekonomian yang sangat menjanjikan. Salah satunya adalah “Kampung Pia” di Dusun Kauman Baru, Desa Gempol. Hampir setiap rumah disulap menjadi industri rumah tangga yang menyajikan pia dengan berbagai varian rasa plus merk yang beragam

Diantara sekian banyak rumah, bisa dibilang pia “Mami” adalah salah satu pia yang sudah memiliki pangsa pasar cukup besar. Sang pemilik usaha, Wahyu Elizabeth Yunita (41) mengaku dalam sehari bisa memproduksi pia sebanyak 1500 kg atau 1,5 ton. Banyaknya pesanan pia yang diproduksi tak lepas dari kualitas varian rasa yang cukup banyak.  Mulai dari pia original, kacang hijau, cokelat, nanas, tape, pisang cokelat, hingga paduan 5 varian rasa yang dijadikan satu dalam kardus kotak berukuran 20X10 cm.

“Paling special adalah pia rasa durian dan original karena memang enak dan harganya juga tidak mahal,” kata Elizabeth saat ditemui di tempat usahanya, Jumat (30/11/2018) siang.

Untuk satu kotak berisi 10-12 pia dijual dengan harga Rp 9500, sedangkan untuk ukuran bolen (lebih besar dari pia biasanya) dijual dengan harga Rp 25.000-Rp 27.500. Setiap harinya, Elizabeth dibuat kewalahan dengan banyaknya pesanan yang datang, mulai dari tetangga sekitar sampai beberapa kota/kabupaten di Jawa Timur seperti Malang, Surabaya, Mdura, Mojokerto, Probolinggo dan Pasuruan. Bila dibandingkan dengan saat ini, jelas saja sudah meloncat beberapa tangga, lantaran order yang diterima Elizabeth sudah tak karuan banyaknya.

“Alhamdulillah, saya percaya kalau kita bekerja keras disertai doa, maka Allah SWT akan memberikan apa yang kita minta, di situlah saya terus berusaha untuk mengembangkan bisnis ini,” ucapnya sembari menunjuk ke arah pia yang baru saja dikeluarkan dari mesin oven.

Untuk menghasilkan pia yang dilirik pasar, Elizabeth mengerahkan 100 karyawan yang memiliki tugas masing-masing, mulai dari memilih tepung terigu sampai proses akhir, yakni packing kemasan. Seluruh proses produksi diawasinya sendiri bersama sang adik ipar, Prihatin Wahyu (41).

“Kebetulan adik ipar juga sudah bertahun-tahun sama saya membesarkan pia mami ini. Selain di sini, saya juga punya satu tempat lagi, dan rencananya di samping saya akan diperluas supaya pembeli juga leluasa untuk berlama-lama di sini,” ungkapnya kepada Suara Pasuruan.

Kebanyakan, dari pesanan pia yang diterimanya, paling banyak untuk keperluan hajatan (orang menikah, sunatan) sebagai souvenir atau buah tangan, dan dibeli oleh sales-sales yang akan menjualnya kembali ke pelanggannya.

“Paling banyak ke Pasar Kembang Surabaya kalau di Jawa Timur. Sekarang sudah merambah ke Jakarta juga, cuma masih ngitung untung ruginya, karena banyak persyaratan dan ini itu yang akhirnya membuat saya mikir lagi untuk merambah jaringan di sana,” jelas dia.

Sementara itu, saat ditanya perihal omset yang didapat dari berjualan pia, Elizabeth hanya tersenyum sembari menegaskan bahwa keuntungannya bisa digunakan untuk menggaji pegawai, melanjutkan pendidikan anak dan memperluas usaha yang dirintis sejak tahun 2010 lalu.

“Hahahaha, yang penting semuanya lancar mas, mau beli ini bisa, beli itu bisa, dan karyawan gajinya tidak pernah telat,” ucapnya dengan tertawa. (emil)

 

  • 18:39:25
  • emil
  • 697 kali dilihat
  • Ekonomi
Komentar Pengunjung
Tuliskan Komentar
 
Form Pencarian
Berita Terkini
Agenda Kegiatan
Agenda Kegiatan Bupati dan Wakil Bupati Pasuruan.

DEC 16

Jambore Sepeda Onthel 2018

Peserta boleh menggunakan sepeda onthel merk apa saja kecuali Sepeda Gunung atau Mountain Bike (MTB)

06:00 am - 11:00 am

16 Dec 2018 (Tanggal Berakhir)

Centra Bang Kodir

Semua Agenda »
Suara Warga
Form & Arsip Suara Warga