16Oct2013

Legenda Dusun Keboireng

Kabupaten Pasuruan yang selama ini membuat kita bangga karena kesantriannya, ternyata mempunyai banyak hal lagi yang menjadikan kita lebih percaya diri jika dibandingkan dengan Kabupaten lain. Di antaranya adalah masyarakatnya yang mempunyai segudang cerita rakyat dan legenda. Karena banyaknya cerita rakyat dan legenda yang kita punya, sehingga hanya beberapa saja yang kita ketahui, contohnya Untung Suropati dan sebagainya. Kita belum kenal dengan legenda-legenda atau cerita-cerita rakyat yang lain.

Legenda masyarakat Pandaan contohnya, kita mungkin belum pernah dengar dengan legenda Dusun Kemiri Sewu, Duren Sewu, Ngampir, Ledok dan lain-lain. Juga legenda masyarakat Gempol, contohnya Dusun Randupitu, Ngerong, Keboireng, Ngingas, Pucang dan sebagainya. Oleh karena itu mari kita simak legenda berikut. Meskipun dalam satu legenda, tetapi legenda ini mewakili dari enam Dusun yang ada di Kecamatan Gempol dan Beji. Keboireng, Ngingas, Pucang, dan Kedanten Kulon adalah tiga dusun kelurahan Ngerong kecamatan Gempol. Sedangkan Kedanten Wetan dan Sobo adalah dua dusun keluruhan Wonokoyo kecamatan Beji.
Bagaimana ceritanya? Mari kita simak legenda menarik yang jarang kita kenal ini.

Joko namanya, seorang petani yang paling sukses di kala itu. Sawahnya berhektar-hektar, ternaknya juga banyak. Meskipun begitu, bukian sawah dan ternaknya yang membuatnya terkenal. Melainkan keunikan salah satu ternaknya yaitu kerbau yang mempunyai ukuran dan obot yang jauh bebeda dari kerbau pada umumnya. Amat besar dan amat berat.

Dari keunikan inilah, rasa saying yang Jokoberikan kepadanya jauh bebeda dengan rasa saying yang ia berikan kepada puluhan ternaknya yang lain. Kerbau ini begitu dimanja olehnya. Jangankan diperintah untuk bajak sawah, digembalakan di luar kandang saja tidak pernah. Ia hanya duduk tiduran dikandang sambil menikmati rumput yang siap saji yang tidak pernah telat. Disebabkan kemanjaan Joko yang belebihan, lama-kelamaan si kerbau makin hari makin malas. Begitu besar perhatiannya dengan yang satu ini, tanpa disadari satu demi satu ternak-ternaknya yang lain mulai bekurang alias hilang.

Dari kejadian ini, Joko sangat menyesali pebuatannya. Dia sadar dan mulai mengurangi perhatiannya pada kerbau pemalas itu dan mulai memperhatikan ternak-ternak yang lain sehingga hewan ternak yang lain mulai ikut gemuk-gemuk. Tidak lama, hanya dengan kurung lima bulan dua ekor  sapi dan seekor kerbau telah menambah jumlah ternaknya menjadi 12 ekor alias ketiga ternak induk tadi melahirkan 4 ekor anak. Joko sangat gembira.

“Alhamdulillah,” puji syukurnya.
Kesibukan Joko mengurus bayi dan jamu induk bayi membuat si kerbau pemalas mulai turun bootnya lantaran sering tak terurus oleh Joko. Akibatnya, si kerbau pemalas sekarang sangat kurus dan jatuh sakit.

Merasa dinomor duakan dan tidak diperhatikan lagi oleh Joko, ia mulai berfikir untuk kabur. Padahal sebelumnya kerbau inilah yang satu-satunya ternak yang tidak pernah diikat lehernya oleh Joko. Karena Joko sangat yakin bahwa dengan kemanjaan yang ia berikan, kerbau yang malas berdiri ini tidak akan mungkin kabur.

Akhirnya di malam yang gelap saat si petani tidur, diam-diam si kerbau berdiri, berjalan ke luar dari kandang dan nekat kabur. Dibilang nekat, karena selain ia tidak tahu jalan lantaran tidak pernah keluar kandang, suasana di luar juga gelap gulita.

“Hah…!” Joko kaget, ternyata mimpi buruk yang membangunkannya betul-betul terjadi. Kerbau yang Joko pikir tidak akan pernah kabur, kini telah tiada di tempatnya. Joko yakin bahwa kerbau ini benar-benar kabur atas kemauannya sendiri dan bukan dicuri orang. Itulah yang ia lihat dalam mimpinya.

“Astaghfirullah. Duh Gusti, ngapunten ingkang agung (Astaghfirullah. Wahai Tuhan, mohon ampunanyang sebesar-besarnya)” kata Joko menyesal. Ia menyadari bahwa semua yang terjadi ini hanya kesalahannya semata. Ia menyadari bahwa dirinya akhir-akhir ini kurang memperhatikan kerbau yang selalu ingin dimanja ini. Meskipun Joko pernah jengkel pada kerbau ini, sebenarnya rasa saying Joko kepadanya tidak pernah berkurang. Karena kerbau yang ukurannya menggila inilah yang membuat dirinya merasa lebih di hadapan para petani lain.

Apalagi kerbau ini adalah wasiat dari ayahandanya semasa masih hidup. Ia diamanati untuk menjaga dan merawat sebaik mungkin kerbau ini, karenanya menurut ayahandanya, nanti ketika kerbau ini sudah dewasa akan punya kelebihan.

Dari alasan inilah Joko berjanji kepada Allah akan berusaha mencari sampai ketemu. Bahkan dia juga berjanji jika kerbau ini sudah ditemukan orang dan orang tersebut minta ganti 10 kali lipat dari harga kerbau biasa, ia akan sanggup menggantinya. Itulah tekatnya untuk menjaga amanat dari sang ayahanda.

Tiga hari telah berlalu, namun kerbau itu belum Joko temukan. Namun Joko tak patah semangat. Tekatnya sudah bulat, ia harus menemukan kerbau itu meskipun gunung yang harus ia daki dan laut yang harus diseberangi. Setelah puluhan kilo meter mencari kea rah barat dan nihil hasilnya, ia mencoba berjalan untuk mencari kea rah timur. Setelah sekitar 1 kilo meter berjalan, ia beristirahat di pinggir sungai dan melaksanakan sholat  dluhur.

Setelah melaksanakan sholat dluhur, ia berdiri dan hendak melanjutkan misinya. Namun setelah beberapa langkah, terbesit ide dalam benaknya. Jika ia berani membayar ganti rugi orang yang menemukan 10 kali lipat dari harga pasar kerbau biasa, kenapa dia tidak mengadakan  sayembara saja. “Kan luweh enak, gak pegel-pegel (Kan lebih enak, tidak pegal-pegal).” Pikirnya kita cerdik.

Ide ini cukup cemerlang, sehingga ia putuskan kembali ke rumah dan mulai mengumumkan sayembara tersebut. Belum lama dari perjalanan pulang, ia bertemu seseorang yang belum ia kenal. Tampaknya orang tersebut adalah orang baik yang akan pulang ke arah timur. Joko gembira, orang inilah yang akan dijadikan target kabar sayembara pertamanya.

Setelah berkenalan, Joko pun mulai mengabarkan sayembara yang diadakannya. Namun saat ia menyebutkan ciri-ciri kerbau yang hilang orang tersebut yang mengaku bernama Yanto ini menyuruh Joko untuk mengurungkan niatnya mengadakan sayembara karena kerbau yang dimaksud pernah dilihat Yanto. Dan Yanto berjanji akan membantu menangkapnya karena kebetulan tempat si kerbau yang pernah orang tersebut lihat dekat rumah tinggalnya. “Kebo iku sobo ono kono (Kerbau itu berada di daerah sana),” katanya. Dari kata “sobo” inilah, tempat keliaran kerbau ini dinamakan Dusun Sobo.

Sebenarnya Yanto sering melihat kerbau ini, tapi Yanto tidak berani menangkapnya. Ketidakberanian Yanto menangkap kerbau itu, bukan disebabkan tidak mampu menangkap sendirian kerbau sebesar itu, melainkan disebabkan ia sangka kerbau yang ada di depannya adalah kerbau jadi-jadian atau kerbau siluman.

Tidak menunggu lama dengan hati berbunga-bunga mendengar kabar baik tersebut, Joko langsung semangat mengajak Yanto untuk menunjukkan lokasi dimana ia pernah melihat kerbau yang dimaksud. Sesampai di daerah tujuan, Joko tidak langsung ke lokasi di mana kerbau itu biasa keliaran, karena ia di ajak mampir ke rumah Yanto. Joko bersedia mampir meski awalnya keberatan karena tidak sabar menemui kerbau kesayangannya yang sudah berhari-hari ia cari.

Setelah istirahat dan menyantap sajian secukupnya di rumah Yanto, mereka mulai berangkat melaksanakn misi penangkapan mereka. Karena lokasi begitu dekat, hanya beberapa menit mereka telah sampai di tempat Yanto sering melihat kerbau itu. “ Alhamdulillah!” gumam Joko bersyukur.

Kerbau yang selama ini susah payah di cari kesana – kemari, sekarang sudah ada di depan mata. Joko sempat tersenyum ketika kerbau yang sekarang ada di depannya sama sekali tidak berubah, kebiasaannya tidak hilang – hilang yakni penuh kemalasan kerbau itu makan rerumputan yang ada di sekelilingnya dengan tidur – tiduran.

Dengan penuh hati – hati, Joko dan Yanto mulai bergerak menangkap hewan buruannya dari belakang setelah mematangkan rencana taktik penangkapan yang mereka musyawarahkan. Keduanya mengeluarkan tambang besar dan kuat yang mereka lingkarkan di bahu kiri mereka.

“ Bismillah “ ucap Joko seraya bergerak mendekati kepala kerbau. Disusul Yanto yang siap mengikat kaki kiri bagian belakang si kerbau. Namun, saat tambang yang diikat – bulatkan hendak di masukkan ke kepala kerbau oleh Joko, kerbau mengetahuinya dan bergegas berdiri dan berlari. Meski keduanya adalah petani yang pandai beternak, kegagalan mereka menangkap hewan ternak bukan tanpa alasan.

Karena kaget melihat kerbau sebesar itu berdiri mendadak di sampingnya, sampai Yanto lupa dengan tugasnya semula. Begitu juga Joko dia gagal memasukkan tambang ke leher karena kerbau keburu menoleh ke arahnya.
Saking kagetnya juga, Yanto bukannya menyusul lari dan mengejar kerbau malah bengong di tempat dengan penuh rasa takjub, sehingga jarak kabur kerbau sudah cukup jauh. “ Kebo opo ora iku ( itu kerbau apa bukan) ?” kata Yanto.

“ Ayo diuber (Ayo dikejar) !” teriak Joko yang sedang buru-buru mengejar. Meski kerbau si pemalas itu larinya tidak kencang, tetapi Joko dan Yanto telah ketinggalan begitu jauh. Sehingga mereka harus berlari yang ekstra kencang agar bisa menyusulnya. Namanya kerbau pemalas akhirnya kerbau itu berhenti juga di sebelah sungai kecil. Kesempatan ini tidak disiasiakan oleh mereka. Dari jauh mereka mengatur strategi atau siasat baru. Karena si kerbau posisinya sekarang berdiri, berbeda dengan posisi saat usaha penangkapan sebelumnya. Maka siasat yang mereka gunakan juga berbeda.

Siasat mereka kali ini, si Yanto di suruh Joko berjaga di sebelah barat sungai dan Joko tetap ada di timur sungai. “ Daten nang kulon (Dari arah barat) !” suruh Joko. “ Siap, sampeyan daten gek wetan (Siap, engkau dari arah timur)”.

Dua ungkapan Joko dan Yanto inilah oleh masyarakat setempat diabdikan menjadi dua buah nama dusun yang berdekatan. Dusun yang letaknya sebelah barat sungai tempat Yanto berjaga dinamakan “Kedanten Kulon” yang berasal dari ucapan Joko “daten kulon”. Dan dusun yang letaknya sebelah timur sungai tempat Joko berjaga dinamakan “Kedanten Wetan” yang juga berasal dari ucapan Yanto “daten wetan”.

Dari siasat penangkapan ini, ternyata si kerbau dapat ditangkap dengan mudah. Maklum, karena selain siasatnya yang jitu, si kerbau juga terlalu lemah untuk berlari.

“ Alhamdulillah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Duh Gusti, Panjenengan pancen Dzat paleng Welas ( Alhamdulillah, tiada daya dan kekuatan kecuali hanya Karena Allah semata. Wahai Tuhan, Engkau adalah Dzat yang paling penyayang),” Joko tidak putus-putusnya bersyukur. Begitu senangnya ia berjanji dalam hati akan member Yanto dua ekor kambing karena Yanto ikhlas menolongnya. Oleh Karen itu Joko minta tolong kepada Yanto untuk bersedia mengantarnya bersama-sama mengembalikan kerbau ke kandangnya.

Karena Yanto adalah orang yang sangat baik, tanpa alasan sekata patah pun Yanto bersedia mengantarkan Joko kembali kerumahnya. Padahal matahari hampir terrbenam dan perjalanan yang akan di tempuh adalah kurang lebih 3 km. perjalanan di mulai dengan posisi Joko di depan memegang tambang dan mengendalikan kerbau dan Yanto di belakang kerbau dengan sekali-kali mendorong kerbau yang malas berjalan.

Di tengah perjalanan pulang, matahari terbenam di ufuk barat tanda masuk sholat maghrib, sehingga mau tidak mau mereka harus menghentikan perjalanan dan menunaikan ibadah sholat maghrib.
“ Kebo iki dicancang ae, terus sholat maghrib (Kerbau ini diikat saja, kemudian solat maghrib),” ajak Joko karena Joko mebawa pakaian yang suci.

“ Sholat gek endi, lha wong aku gak gowo pakaian suci koyo sampean (Salat dimana, sedangkan saya tidak membawa pakaian yang suci)?” Yanto balik tanya.

“ Ga enak lek gentian, gak iso sholat jamaah (Tidak enak kalau bergantian, tidak bisa shalat berjamaah),” imbuh Yanto.

Dari ungkapan ajakan Joko “Kebo iki dicancang ae, terus sholat maghrib” inilah, daerah ini dinamakan Dusun Pucang. Dusun yang terletak di urutan ke tempat setelah Sobo, Kedanten Wetan dan Kedanten Kulon.

Karena daerah sekitar masih belum menjadi dusun dan hanya berupa hektaran sawah dan hutan. Mereka putuskan untuk melanjutkan perjalanan karena diperkirakan sebelum waktu maghrib habis mereka akan dapat melaksanakannya di rumah sahabat Joko yang jaraknya hanya setengah kilo meter.

Setelah mereka sampai pada rumah orang yang dimaksud Joko mengikatkan kerbaunya di sebuah pohon besar yang bernama pohon ingas yang berada di sebelah rumah. Dari nama pohon inilah daerah tempat kerbau itu diikat dinamakan “ Dusun Ngingas” yang terletak di sebelah barat Pucang.

Sahabat Joko yang ini sangatlah baik, sehingga Joko dan Yanto bukan hanya dipinjami pakaian dan dipersilahkan menunaikan sholat saja. Tetapi mereka juga dijamu makan malam bersama dengan sedekah sepotong ayam yang baru disembelihnya. Setelah sholat, makan dan sebagainya, mereka berterima kasih dan mohon pamit karena Joko mulai khawatir dan kasihan terhadap istrinya yang menjaga rumah dan puluhan ternaknya.

Joko sampai dirumahnya bersama Yanto disambut baik oleh istrinya, apalagi dengan membawa kerbau kesayangan dalam keadaan selamat. Setelah melaksanakan shalat isya’ bersama, Yanto mohon pamit. Joko melarangnya, “ bengi – bengi ngene kate mole, nginep pisan (Malam-malam begini mau pulang, menginap saja)!” suruh Joko. Alasan terlalu malam untuk pulang sebenarnya bukan alasan yang tepat zaman kala itu, karena meskipun malam begitu gelap sebab belum ada listrik masuk desa, nyali-nyali orang dahulu itu dalam menghadapi kegelapan pantas di acungi jempol.

Alasan yang benar Joko melarang Yanto pulang malam itu karena besok pagi ia akan melaksanakan nadlarnya yakni member Yanto dua ekor kambing. Untungnya Yanto tidak memaksa pulang dan berkenan menginap meski berani. Sehingg Joko tidak menemui kesulitan untuk memenuhi nadlarnya.

Pagi – pagi setelah subuh, Yanto pun mohon pamit lagi dan Joko mengizinkannya dengan satu syarat. Yanto kaget seketika, barukali ini ada orang minta tolong padanya dan ketika sudah ditolong kok malah minta syarat. Kesal Yanto dalam batin.
Namun uneg-uneg seperti itu musnah dan langsung bersyukur hamdalah karena ternyata syarat yang diminta oleh Joko adalah dia harus menerima pemberian dua ekor kambing dari Joko.

Yanto memenuhi syarat tersebut dengan senang hati dan pulang bersama kedua ekor kambingnya dengan hati berbunga-bunga. Sedangkan Joko dan isterinya berjanji akan merawat kerbau yang mereka sayangi seperti mereka merawatnya sebelum kabur dari kandang. Sampai akhirnya kerbau itu meninggal dunia.

Dan daerah tempat kerbau ini dikuburkan oleh masyarakat dinamakan “Dusun Keboireng”. Dengan terkuburnya si kerbau unik milik pak Joko inilah, legenda asal usul nama deretan kelima dusun ini berakhir.

Sampai sekarang kita dapat menyaksikan kuburan kerbau ini di Dusun tersebut. Tepatnya di sebelah timur pemakaman Islam Dusun Keboireng – Gempol. Selamat berkunjung !

Oleh M. Rofi’i Ihsan
Penulis berasal dari Gempol Pasuruan.

Cerita Terkait

  • 09:34:13
  • andra
  • 6839 kali dilihat
  • Cerita Rakyat
Form Pencarian
Berita Terkini
Kategori Cerita
Cerita Rakyat Cerita Legenda
Agenda Kegiatan
Agenda Kegiatan Bupati dan Wakil Bupati Pasuruan.

NOV 23

Peringatan Hari Ikan Nasional

08:00 am - 00:00 am

23 Nop 2016 (Tanggal Berakhir)

Sentra Produk Unggulan Bangil

Semua Agenda »
Suara Warga
Form & Arsip Suara Warga