Wagub Buka Bromo Agrofestival
Senin, 1 Juni 2009 07:52:20 - oleh : admin

Pada kesempatan itu Wagub menyarankan agar Pasuruan bisa mengenalkan agrowisatanya. Tujuannya supaya pengunjung wisata gunung Bromo semakin mengenal Pasuruan.
"Jalur ke Bromo itu bisa dari Probolinggo, Malang, dan Pasuruan. Dari arah mana saja, jalannya cukup jauh. Jadi, apabila sepanjang jalan menuju Bromo ada tempat transit yang ada wisatanya, harus dimanfaatkan. Turis pun bisa enjoy mampir. Dengan adanya agrowisata, Pasuruan kan semakin dikenal," kata Wagub asli Pasuruan itu.
Sebelum Gus Ipul, panggilan Wagub Saifullah Yusuf, mengisi sambutan, Bupati Dade Angga lebih dulu memberikan sambutan. Pada kesempatan itu Bupati mengatakan bahwa Pasuruan banyak menghasilkan potensi pertanian dan peternakan. Sebagai contoh, penghasilan susu sapi di Kabupaten Pasuruan mencapai 185 ribu liter per hari.
Begitu pula dengan hasil tanaman semacam paprika. "Jepang setiap 1 Minggu membutuhkan sekitar 10 ton paprika dari Pasuruan. Tetapi sampai saat ini kuota sebanyak itu tidak bisa dipenuhi Kabupaten Pasuruan. Karena itu kami meminta back up dari Provinsi Jatim untuk anggaran pertanian," katanya.
Dengan back up dari provinsi, kata Dade, ia yakin kuota yang diminta dari berbagai pihak dapat dipenuhi. Dengan adanya anggaran, Dade pun yakin tak hanya tanaman paprika saja yang bisa dipenuhi. Tetapi juga tanaman yang lain.
Di Bromo Agrofestival, Dade lebih banyak berbicara tentang tanaman holtikultura yang ada di Kabupaten Pasuruan. Sebab, menurutnya, karena itulah Bromo Agrofestival ini digelar. Festival ini digelar untuk menunjukkan kepada pemerintah provinsi bahwa Pasuruan punya banyak potensi.
Bromo agrofestival kemarin tak hanya dihadiri oleh pemerintah provinsi Jawa Timur. Beberapa kepala daerah seperti Bupati Malang Sujud Pribadi, Bupati Pacitan Sudibyo juga hadir. Hadir pula Ketua DPRD Provinsi Jakfar Shodiq.
Di festival tersebut didirikan sekitar 30 stan pameran untuk menunjukkan hasil-hasil produk pertanian di Kecamatan Tutur. Stan pameran itu juga diisi oleh kelompok-kelompok tani se Kecamatan Tutur. Di stannya masing-masing, mereka menunjukkan tanaman potensi yang menjadi andalan desanya.
Stan yang dibuat pun menarik. Bangunannya dibuat dari bahan tradisional, seperti alang-alang untuk atap dan gedek bambu. Jadi pengunjung yang hadir pun bisa merasakan bagaimana alaminya Bromo Agrofestival. Rata-rata setiap stan diisi oleh kelompok-kelompok tani yang ada di Kecamatan Tutur.
Salah satunya dari Kelompok Tani Citra Alami (KTCA) Desa Andonosasri. Heri, ketua KTCA mengatakan, di Desa Andonosari yang terkenal dengan apelnya juga sengaja membawa hasil panennya. Lelaki yang kemarin mengenakan baju biru itu menyebutkan, ia mendukung sekali apa yang dikemukakan Wagub Jatim tentang agrowisata.
"Kalau nantinya ada agrowisata, kami ingin mengenalkan apel di desa kami. Dengan adanya agrowisata kami yakin Kecamatan tutur semakin dkenal dan tentunya bisa mendatangkan pendapatan," ujarnya.
Sebenarnya tak hanya kelompok tani saja yang membuat stan di Agrofestival. Dinas-dinas Kabupaten Pasuruan juga ikut bergabung mendirikan stan. Seperti dinas pertanian yang kemarin memamerkan bibit temuan mereka. (radar bromo)