Dialog Lemhanas RI : Kembalikan Nasionalisme Bangsa Indonesia

SUARA PASURUAN - Semakin lunturnya nilai-nilai nasionalisme bangsa Indonesia akhir-akhir ini, menjadi bahasan menarik dalam Dialog Kebangsaan Gubernur Lemhannas RI dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, organisasi pemuda, ormas, LSM, serta puluhan guru PKN, yang digelar di Tretes Raya Hotel and Resort Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Gubernur Lemhannas RI Prof DR Ir Budi Susilo Supandji hadir sebagai pembicara, bersama dengan KH Masdar Farid Mashudi Rois Surya PBNU, dan DR Dade Angga S.IP M.Si Bupati Pasuruan. Sementara, Suyikno Direktur Puspa IAIN Sunan Ampel Surabaya bertindak sebagai moderator acara.
Selain itu, Danrem 083 Brawijaya Malang Letkol Tatang Sulaiman juga tampak duduk di kursi depan, bersama dengan Kapolres Pasuruan AKBP Achmad Ibrahim, Kapolresta AKBP Atih Nursani, Dandim 0819 Pasuruan Letkol Kavaleri Edy Sutjipto, Irsyad Yusuf Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, dan beberapa alim ulama di Kabupaten Pasuruan.
Dialog kebangsaan yang pertama kali dilakukan di seluruh daerah di Indonesia itu, secara keseluruhan menjadi pioneer atau rintisan, yang nantinya ditargetkan akan dilanjutkan di daerah-daerah lain seperti Probolinggo, Malang, Lumajang, Jember dan Surabaya.
Hal itu seperti yang dikatakan Budi Susilo pagi tadi (Sabtu, 11 Pebruari 2012). Adik kandung Jaksa Agung Hendarman Supandji itu menegaskan, Lemhannas merupakan sebuah wadah, di mana sangat berperan sebagai penyambung antara kebijakan serta permasalahan-permasalahan yang menyangkut semua sisi kehidupan, terutama dalam hal bela negara, keamanan nasional maupun isu-isu SARA.
"Lemhannas bukan sebagai stake holder terkait dengan agama, pendidikan kesehatan. Akan tetapi kami sebagai wadah yang akan menjembatani semuanya," ujar Budi Susilo di depan para wartawan.
Pria 59 tahun itu mengatakan, di jaman globalisasi seperti saat ini, banyak pergeseran maupun ketimpangan yang terjadi, terlebih pada saat bangsa Indonesia sudah kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang berdasarkan pancasila.
Lebih lanjut dia menambahkan, ada beberapa contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari, di mana timbul stereotip pancasila, di antaranya radikalisme, pelanggaran HAM, Separatisme, Konflik SARA, Liberalisasi, sampai KKN. Hal itu disimpulkan Susilo Budi telah melanda semua rakyat Indonesia.
"Di mana-mana KKN, mulai dari yang ribuan sampai Milliaran Rupiah. Itu semua sudah menandakan kalau kita sudah kehilangan identitas kita sebagai negara yang berazaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945," tandasnya.
Oleh karenanya, untuk bisa mengembalikan jati diri bangsa Indonesia yang sebenarnya, Susilo menganggap Dialog kebangsaan menjadi salah satu cara yang ampuh. Di satu sisi semakin mengakrabkan satu sama lain, dialog merupakan ajang bertukar pendapat, ide, maupun pemikiran baru tentang bagaimana menjadikan bangsa Indonesia kembali jaya seperti yang diharapkan.
"Kita sudah membuat banyak buku tentang training of trainer. Itu akan segera kita sebarkan," katanya.
Sementara itu, DR Dade Angga S.IP M.Si Bupati Pasuruan menmandang perlu diagendakan kembali, kegiatan seperti yang berlangsung pagi tadi, di mana rencananya, frekuensi dialog kebangsaan akan semakin ditingkatkan, sehingga pada akhirnya, tiga pilar perekonomian yakni Pemerintah, pengusaha swasta dan masyarakat biosa berjalan beriringan.
"Dalam waktu dekat, kita akan mengagendakannya lagi," katanya. (EMIL)