Capai 5 Kesepakatan

Kamis, 17 Februari 2011 09:25:03 - oleh : admin

Capai 5 Kesepakatan

 Capai 5 Kesepakatan

Pertemukan Tokoh Aswaja – YAPI

PASURUAN-Pasca aksi peyerangan di Yayasan Pesantren Islap (YAPI) Al-Ma’hadul Islami di Desa Kenep, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Selasa (15/2) lalu, semua komponen bergerak mendinginkan suasana. Kemarin (16/2) Wabup Paripurna bareng muspida menggagas pertemuan para tokoh Aswaja dengan pengurus YAPI. Pertemuan itu menghasilkan lima kesepakatan

Upaya mempertemukan dua kelompok itu dilakukan di pendapa Kabupaten Pasuruan. Pertemuan itu molor cukup lama, lantaran datangnya para tokoh penting yang diundang tidak dalam waktu yang bersamaan.

Sekitar pukul 12.30, pembahasan masalah tersebut bisa dimulai. Padahal dalam undangan disebutkan waktunya pukul 10.00. sebagian YAPI menyempatkan hadir dalam pertemuan tersebut.

Di antara tokoh Aswaja (ahlussunnah wal jamaah) yang dilihat adalah Nur Fuadi, Munir Sokhih, Muhammad Basir, KH. Nur Cholis, Agil Abdullah, dan Achmad Shodiq. Sementara di pihak pengurus YAPI, tampak hadir M. Alwi, Ustadz Muchsin, M. Bakar Al-Habsyi, serta Hasyim.

Wartawan sudah nyanggong cukup lama di sekitar pendapa, demi mendengarkan langsung peristiwa penting itu. Namun sayangnya, pertemuan itu dinyatakan tertutup untuk media.

“Untuk pers, kami mohon maaf. Pembicaraan tidak bisa langsung dijadikan konsumsi public. Nanti aka nada konferensi pers khusus,” pinta Wabup Eddy Paripurna, mengusir secara halus para awak media yang sudah bersiap-siap memantau pertemuan itu.

Cukup lama, dialog seputar masalah penyerangan pondok YAPI berlangsung di dalam rumah dinas Bupati Pasuruan. Semua akses pintu masuk, ditutup rapat. Bahkan suara para tokoh yang manyampaikan pendapatnya dlam pertemuan itu, tidak sampai bocor keluar.

Setelah hampir 2,5 jam pertemuan itu berlangsung, barulah wartawan diperbolehkan masuk. Ketika itu, telah dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama, yang dinyatakan sebagai hasil pertemuan.

Sebelum konferensi pers berlangsung, wartawan masih sempat mengkorfirmasi langsung Ketua Jamaah Pengajuan Aswaja KH. Nur Cholis. Tokoh sentral, dalam Aswaja tersebut menyangkal jika aksi kerusuhan itu atas instruksi jamaah.

“Memang yang terlibat permasalahan ini adalah anggota jamaah Aswaja. Tapi bukan atas instruksi organisasi. Saya ini ketua Aswaja. Tidak pernah mengeluarkan perintah macam-macam. Hanya menggelar pengajiah amar ma’ruf nahi munkar,” ungkapnya.

Bahkan, tambahnya dalam setiap pengajuan Aswaja, seluruh anggotanya diingatkan untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa memicu konflik.

Baru mengutarakan penjelasannya secara singkat, wawancara itu sudah dipotong oleh dinas infokom Kabupaten Pasuruan. “Sudah. Lebih baik langsung konferensi pers. Kami telah menyiapkan tempat khusus untuk itu,” ujar Kadis Infokom Suharto.

Beberapa saat kemudian, para tokoh Aswaja itu menggelar konferensi pers. Didampingi Wabup Eddy Paripurna dan Kapolres Pasuruan AKPB Syahardianoto. Tapi, diantara mereka tidak tampak satupun tokoh perwakilan dari pondok YAPI.

Wabup Eddy, menjadi juru bicara dalam konferensi pers tersebut. “Kami sangat menyesalkan kejadian tersebut,” kata wabup.

Dia juga mengutarakan kesepakatan bersama, yang telah ditandatangani semua pihak yang hadir siang kemarin. Ada lima poin. Selain menyesalkan kejadian tersebut, mereka juga menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum. Untuk memproses peristiwa tersebut secara obyektif dan adil, sesuai hukum yang berlaku.

“Kami juga mengharapkan agar semua kalangan tetap menjaga ketenangan, dan kondustivitas daerah,” tandas Wabup Eddy Paripurna.

Dalam kesepakatan itu juga ditegaskan, para pihak yang sepakat akan saling menghormati. Mereka wajib mengendalikan umatnya agar tidak mudah terpancing oleh isu-isu yang tidak bertanggung jawab. Mereka juga sepakat untuk tidak melakukan konvoi, dengan membawa atribut yang bisa memicu keributan terhadap kelompok lain.

Kapolda : Murni Spontanitas

Sementara itu, Kapolda Jatim Irjen Pol Badrodin Haiti menyebut aksi penyerangan yang terjadi di Ponpes YAPI pada Selasa (15/2) siang, murni spontanitas. Ini diungkapkan Kapolda usai pertemuan tertutup di pendapa Kabupaten Pasuruan, Selasa malam.

Beberapa jam setelah peristiwa tersebut, tepatnya mulai sekitar pukul 21.00 di pendapa Kabupaten Pasuruan digelar pertemuan tertutup. Dihadiri jajaran Muspida, para tokoh ulama, Kapolres AKBP Syahardiantono, bahkan Kapolda Irjen Badrodin Haiti.

Setelah rapat itu Kapolda memberi keterangan kepada media. Ia menegaskan bahwa aksi penyerangan yang terjadi di Ponpes YAPI murni aksi spontanitas. “Hanya spontanitas, usai pulang pengajian dari Singosari, Malang,” ujarnya.

Menurutnya, massa yang baru pulang pengajian tersebut memang sempat mendengarkan ceramah yang membahas masalah syiah. Tapi, penceramah tidak pernah menyuruh massa untuk melakukan penyerangan. Karenanya, aksi penyerangan itu murni spontanitas.

Dijelaskan, saat itu sekelompok massa yang diketahui berbeda Aswaja, konvoi dari arah Singosari menuju Bangil. Sesampainya di depan Ponpes YAPI, massa sempat mengejek para santri yang tengah bermain di halaman ponpes. Dari situ, aksi pelemparan dimulai. Karena merasa tidak terima diserang, anak-anak YAPI melakukan perlawanan balik.

Menurut Kapolda, saat itu ada dua petugas berpakaian preman yang ada di lokasi. Bahkan sempat dimuntahkan dula kali tembakan peringatan oleh petugas. Usai kejadian, ada tiga penyerang yang diamankan petugas. “Status mereka masih dalam penyidikan, 1X24 jam baru bisa ditetapkan sebagai tersangka,” jelas Kapolda malam itu.

Apakah jumlah tersangka bisa bertambah? Kapolda menjelaskan itu tergantung hasil penyidikan.

Sedangkan Kapolres Pasuruan AKBP Syahardiantono yang mendampingi Kapolda menjelaskan inisial ketiga terperiksa. Mereka adalah UB, MZ, dan DN. Ketiganya diketahui warga Bangil dan usia mereka diperkirakan sekitar 20 tahun.

Sementara itu, dalam pertemuan di pendapa itu juga dihasilkan lima poin penting. Wabup Pasuruan Eddy Paripurna menyatakan, poin-poin penting itu ialah bahwa mereka menyesalkan dan prihatin atas kejadian tersebut. Karenanya mereka minta aparat penegak hokum agar memproses kejadian itu secara obyektif dan adil, sesuai hokum yang berlaku, serta memperhatikan akar persoalannya.

Berikutnya mereka minta semua pihak menjaga ketenangan dan konduktifitas keamanan dan ketertiban di wilayah kabupaten Pasuruan. Para tokoh juga diminta saling mengendalikan umatnya agar tidak terpancing isu-isu yang tidak bertanggung jawab.

Terakhir, media massa juga diminta ikut serta meredam dan menyejukkan suasana Kabupaten Pasuruan. “Kami harapkan peran masyarakat,” jelas Wabup.

5 Poin Kesepakatan Bersama Pascapenyerangan di Ponpes YAPI

-          Menyesalkan dan prihatin atas kejadian yang dimaksud

-          Menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum untuk memproses secara obyektif, dan adil sesuai dengan hukup yang berlaku. Serta memperhatikan akar persoalannya

-          Menjaga ketenangan dan kondusifitas keamanan, dan ketertiban di wilayah Kabupaten Pasuruan.

-          Para pihak sepakat untuk saling menghormati, dan mengendalikan umatnya. Agar tidak mudah terpancing oleh isu-isu yang tidak bertanggung jawab.

-          Sepakat untuk tidak melakukan konvoi dan membawa atribut-atribut yang dapat memicu keributan terhadap kelompok lain, pada saat melakukan kegiatan keagamaan/pengajian.

 (Radar Bromo / Kamis, 17 Februari 2011 / Halaman 29 & 39. via/d7x/yud)

| More

Berita "Budaya" Lainnya